Sabtu, 29 November 2014

7 Kebiasaan Sukses Guru Masa Depan
  1. Menjadi pembelajar sejati. Menjadi guru bukanlah hanya untuk mentransfer ilmu melainkan untuk belajar demi mengembangkan profesionalismenya sebagai guru.
  2. Menjadi sales konten materi pelajaran. Guru harus mampu memenangi hati siswanya. Guru harus mampu menjelaskan apa manfaat sekolah bagi masa depan      mereka. Guru harus mampu menjual manfaat menpelajari konten materi pelajaran dengan antusias, menghadirkan suasana kontekstual antara materi pelajaran dan dunia anak.
  3. Menggunakan beragam gaya mengajar. Saat ini, ada banyak temuan tentang kinerja otak yang dapat digunakan dalam pembelajaran, ada banyak model dan    pendekatan pembelajaran yang telah melewati proses pengkajian yang harus dicerna, kalaupun mungkin diterapkan dalam upaya memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas.
  4. Membangun relasi dengan orangtua siswa. Tanpa kecuali, guru harus dapat membangun relasi dengan orang tua siswa sebagai jembatan penghubung antara    sekolah dan rumah, sehingga informasi dan peserta didik dapat bergerak bebas dari satu tempat ke tempat lain.
  5. Rajin mengikuti kegiatan in-service training dalam upaya peningkatan keilmuan dan kompetensi guru dalam mengajar.
  6. Melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dalam rangka sebagai upaya peningkatan kualitas pembelajaran serta sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban   guru terhadap kinerjanya.
  7. Menginspirasi siswa dengan metafora, yakni memaparkan cerita tentang hakikat kesuksesan, perumpamaan-perumpamaan mengenai suatu bentuk kehidupan   yang notabene akan siswa hadapi kelas, simulasi, ataupun kisah-kisah berbagai orang sukses dalam hidupnya.
Menjadi guru bukan berarti menjadi sumber ilmu, melainkan fasilitator dalam menemukan pengetahuan. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti belajar jika ingin menjadi guru. Guru yang hebat akan bangga jika mampu mencetak siswa yang lebih hebat atau unggul dari dirinya. Dia akan terlecut untuk terus meng-up-grade diri dan ilmunya. Bukan sebaliknya, berpuas diri dengan kemampuan yang dimiliknya. Wahai para guru, mari kita tunjukkan bahwa kita adalah guru hebat itu yang bisa mengubah Indonesia yang lebih baik.

Rabu, 26 November 2014

Ingin jadi juara kelas? nihh aku kasih tau tipsnya:D



jangan pernah berhenti untuk belajar...!!!




  1. Belajar dengan tekun dan semangat.
  2. Harus memiliki motivasi diri yang kuat
  3. Sediakan waktu luang untuk bersantai guna untuk menyegarkan otak,Seperti sabda Nabi bahwa “waktu adalah pedang“. Kalo kita pandai menggunakan waktu dengan baik, maka ‘dia’ (waktu) akan menjadi senjata ampuh bagi kita. Namun jika kita nggak bisa memanfaatkan waktu, secara perlahan dia akan membunuh kita. Hidup emang dibatasi oleh waktu tapi jangan sampai kita mau diperbudak waktu, justru kitalah yang harus menjadi majikan bagi waktu.
  4. Waktu di kelas dengarkan pelajaran guru dengan baik dan berkonsentrasi
  5. Catat poin-poin penting yang telah dijelaskan oleh guru
  6. Berani bertanya jika ada hal yang tidak kita mengerti
  7. Berani menjawab pertanyaan dari guru ataupun dari teman
  8. Rajin membaca dan menghafal dikit demi sedikit
  9. Memiliki rasa ingin tahu yang besar
  10. Menyenangi semua mata pelajaran yang ada di sekolah
  11. Mengerjakan semua tugas (PR) dari guru
  12. Memiliki kedisiplinan yang tinggi
  13. Menjaga kesehatan tubuh
  14. Mendekatkan diri kepada Allah SWT dan berdoa
Semoga bermanfaat

Minggu, 23 November 2014

makalah ketamansiswaan II

TUGAS KETAMANSISWAAN II
“SEPULUH SENDI-SENDI AJARAN KI HAJAR DEWANTARA DAN APLIKASINYA DALAM MASYARAKAT

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK VIII 
  1.   SALEMAN HARTOYO        ( 2012 002 175 ) 
  • PETRUS BASA ODUNG      ( 10 002 233 )
  1.  
2.    SIPRIANUS NDAWA LU    ( 11 002 021 )

4.    MONICA P. MEGA M          (28 002 128 )
5.    ANITO GUSMAO LOPES     (2012 002 177)
6.    YUYUN ANGGREINI K      ( 2013 002 106)
7.    ANGELIQ LINDA BILI       (2013 002 105)
8.    NOVI WIDYOWATI             (2013 002 139)
9.    CLOUDIA ARTANINDA     (2013 002 130)
10. NURUL FITRI                       (2013 002 128)
ENGLISH DEPARTEMEN
SARJANAWIYATA TAMANSISWA UNIVERSITY
JOGJAKARTA

2014



       LATAR BELAKANG

Taman Siswa adalah sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta (Taman berarti tempat bermain dan tempat belajar, Siswa mempunyai arti murid). Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah ini diberi nama “National Onderwijs Institut Taman Siswa”, dan direalisasikan bersama-sama dengan teman-teman beliau di paguyuban Sloso Kliwonan.
Taman Siswa ini berpusat di Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, dan mempunyai sekolah cabang di banyak kota (129 cabang) di seluruh Indonesia sampai sekarang. Prinsip dasar dalam pendidikan Taman Siswa yang sudah tidak asing di telinga kita adalah:
1. Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan kita memberi contoh)
2. Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun prakarsa dan bekerja sama)
3. Tut Wuri Handayani (di belakang memberi daya-semangat dan dorongan).
4. Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Ketiga prinsip pendidikan ini sampai sekarang masih terus menjadi panduan dan pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Keanekaragaman masyarakat Indonesia sangat luas saat ini, hal ini meliputi dari segi cara dan gaya hidup, cara berpikir, prinsip dan dari segi kehidupan yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Akan tetapi hal ini tidak seharusnya menghambat agar kita sebagai masyarakat serta generasi penerus bangsa Indonesia ini saling mendukung antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu perbedaan yang telah ada, dapat kita satukan dengan kita hidup sebagai masyarakat yang saling melengkapi dengan berbagai macam ajaran yang dapat saling menyatukan kita sebagai bangsa Indonesia yang utuh. Hal ini dapat mendukung masyarakat untuk saling membangun antara satu dengan yang lain. Maka dengan ini akan tercipta masyarakat yang mempunyai tujuan yang sama demi membangun kehidupan yang adil, damai, makmur dan sejahtera.
Banyak pelajaran serta pengetahuan yang terdapat dalam ajaran Ki Hadjar Dewantara, diantaranya adalah berupa “ fatwa akan sendi hidup merdeka”. Pengertian fatwa itu sendiri dapat dilihat dari segi etimologi berasal dari kata al fatwa wal futyaa (fatawaa) yang berarti petuah, nasehat jawaban atas pertanyaan yang berkaitan dengan hukum. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan di bahas  “Sepuluh Sendi-sendi Ajaran Ki Hadjar Dewantara dan Aplikasinya Dalam  Masyarakat.
       AJARAN HIDUP DAN CITA-CITA KI HADJAR DEWANTARA
Tamansiswa adalah wadah dan wujud ajaran hidup Ki Hadjar Dewantara yang berupa azas, sendi organisasi, sistem pendidikan dan cara-cara kebiasaan hidup sebagai syarat pelaksanaan dan cita-cita kehidupan Tamansiswa.
Ajaran hidup Ki Hadjar Dewantara yang dituangkan sebagai ajaran “Ketamansiswaan” tidak hanya berlaku untuk penyelenggaraan pendidikan formal tetapi dimaksudkan untuk mengatur kehidupan manusia baik dalam keluarga, masyarakat dan bernegara.
      FATWA UNTUK HIDUP MERDEKA
Untuk peneguh keyakinan perjuangan kita, Ki Hadjar Dewantara memberikan kita bundelan dari beberapa ajarannya, yang disebut  Ki Hadjar sebagai “ fatwa akan sendi hidup merdeka”.
Untuk dingat-ingat,direnungkan dan diamalkan:
1.      “ Lawan Sastra Ngesti Mulya”
Dengan pengetahuan kita menuju kemuliaan. Inilah yang dicita-citakan Ki Hadjar dengan Tamansiswanya, untuk kemuliaan nusa bangsa dan rakyat. Sastra herjendrayuningrat pangruwatin dyu berarti ilmu yang luhur dan mulia menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban.
Fatwa ini adalah juga candrasengkala,mencatat lahirnya Tamansiswa (tahun 1852 atau 1922).
2.      “ Suci Tata Ngesti Tunggal”
Dengan suci batinnya,tertib lahirnya menuju kesempurnaan,sebagai janji yang harus diamalkan oleh tiap-tiap peserta perjuangan Tamansiswa.
Fatwa ini juga sebagai candrasengkala,mencatat lahirnya persatuan Tamansiswa (tahun 1853 atau 1923).
3.      “ Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia”
Berdasarkan asas Tamansiswa,yang menjadi syarat hidup merdeka berdasarkan pada ajaran agama,bahwa bagi Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama; sama haknya dan sama kewajibannya. Sama haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjalankan kewajiban kemanusiaan,untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan bahagia dalam hidup batinnya. Jangan kita hanya mengejar keselamatan lahir, dan jangan pula hanya mengejar kebahagiaan hidup batin.
4.      “ Salam bahagia diri tak boleh menyalahi damainya masyarakat”
Sebagai peringatan, bahwa kemerdekaan diri kita dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. Batas kemerdekaan diri kita ialah hak-hak orang lain yang seperti kita masing-masing sama-sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus diletakkan di atas  kepentingan diri masing-masing akan hidup selamat dan bahagia, apabila masyarakat kita terganggu, tidak tertib dan damai. Janganlah mengucapkan “hak diri” kalau tidak bersama-sama dengan ucapan “tertib damainya masyarakat”, agar jangan sampai hak diri itu merusak hak diri orang lain sesama kita, yang berarti merusak keselamatan hidup bersama, yang juga merusak kita masing-masing.
5.      “ Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna”
Sebagai pengakuan bahwa kodrat alam, yaitu segala kekuatan dan kekuasaan yang mengililingi dan melingkungi hidup kita itu adalah sifat lahirnya kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berjalan tertib dan sempurna di atas segala kekuasaan manusia. Janganlah hidup kita bertentangan dengan ketertiban kodrat alam. Petunjuk kodrat alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai orang seorang atau individu, sebagai bangsa maupun sebagai anggota dari alam kemanusiaan.
6.      “ Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan”
Berarti bahwa hidup kita masing-masing itu ada dalam lingkungan berbagai alam-alam khusus yang saling berhubungan dan berpengaruh. Alam khusus ialah alam diri,alam kebangsaan dan alam kemanusiaan. Rasa diri, rasa bangsa dan rasa kemanusiaan,ketiga-tiganya hidup dalam tiap-tiap sanubari kita masing-masing manusia. Adanya perasaan ini tidak dapat dipungkiri.
7.      “ Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada Sang Anak”
Penghambaan kepada Sang Anak tidak lain daripada penghambaan kita sendiri. Sungguhpun pengorbanan kita itu kita tunjukkan kepada Sang Anak, tetapi yang memerintahkan kita dan memberi titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, tetapi kita sendiri masing-masing. Di samping itu kita menghambakan diri kepada bangsa, negara pada rakyat dan agama atau terhadap lainnya. Semua itu tak lain penghambaan pada diri sendiri,untuk mencapai rasa bahagia dan rasa damai dalam jiwa kita sendiri.
8.      “ Tetep – Mantep – Antep”
Dalam melaksanakan tugas perjuangan kita, kita harus tetap hati. Tekun bekerja,tidak menoleh kekanan dan kekiri. Kita harus tetap tertib dan berjalan maju. Kita harus selalu “Mantep”, setia dan taat pada asas itu, teguh iman hingga tak ada yang dapat menahan gerak kita atau membelokkan aliran kita.
Sesudah kita tetap dalam gerak lahir kita dan mantep dan tabah batin kita, segala perbuatan kita akan “antep”, berat berisi dan berharga. Tak mudah dihambat, ditahan-tahan dan dilawan oleh orang lain.
9.      “ Ngandel – Kendel – Bandel ”
Kita harus “ngandel”, percaya jika kepada kekuasaan Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. “ Kendel”, berani,tidak ketakutan dan was-was oleh karena kita percaya Tuhan dan kepada diri sendiri. “Bandel”,yang berarti tahan,dan tawakal. Dengan demikian maka kita menjadi “kendel”, tebal, kuat lahir batin kita, berjuang untuk cita-cita kita.
10.   “ Neng – Ning – Nung – Nang “
Dengan “neng”, meneng, tenteram lahir batin, tidak gugup, kita menjadi “ning”,wening, bening, jernih pikiran kita, mudah membedahkan mana hak dan mana batil, mana benar mana salah, kita menjadi “nung”, hanung, kuat sentosa,kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita. Akhirnya “nang”, menang, dan dapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.

Sepuluh fatwa Ki Hadjar di atas itu merupakan welingan, pesanan dan amanat kepada kaum Tamansiswa yang berjuang menghadapi kesulitan hidup dan rintangan-rintangan yang hebat terutama di waktu jaman pemerintahan kolonial. Ia menjadi mantra yang menguatkan keyakinan perjuangan kaum Tamansiswa.
NGERTI – NGRASA – NGLAKONI
Ki Hadjar mengingatkan, bahwa terhadap segala ajaran, dan cita- cita hidup yang kita anut, diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan pelaksanaannya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan, menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan tidak memperjuangkan.
Merasa saja dengan tidak pengertian dan tidak melaksanakan.menjalankan tanpa kesadaran dan tanpa pengertian tidak akan membawa hasil. Sebab itu syarat bagi peserta tiap perjuangan cita-cita, ia harus tahu, mengerti apa maksudnya, apa tujuannya. Ia harus merasa dan sadar akan arti dan cita-cita itu dan merasa pula perlunya bagi dirinya dan bagi masyarakat, dan harus mengamalkan perjuangan itu.
“ Ilmu tanpa amal seperti pohon kayu yang tidak berbuah”. “ Ngelmu tanpa laku kothong, laku tanpa ngelmu tanpa cupet”. Ilmu tanpa amal perbuatan adalah kosong, perbuatan tanpa ilmu pincang. Bagi pengikut dan peserta perjuangan haruslah penuh pengetahuan dan pengertian, penuh semangat dan kemauan dan sungguh melaksanakan semua yang menjadi pengetahuan dan cita-citanya. Demikian diminta Ki Hadjar bagi tiap-tiap orang yang mengemban ayahan. 


      KESIMPULAN

Dari Tamansiswa banyak pahlawan kemerdekaan lahir yang berjuang untuk Indonesia merdeka. Dari Tamansiswa tumbuh kader-kader nasionalis, yang pada awal kemerdekaan perannya sangat signifikan di negeri ini. Hingga sekarang lambang Departeman Pendidikan Nasional diambil dari ikon Tamansiswa yaitu Tut Wuri Hadayani.               
Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus bangsa yang berada di tengah-tengah masyarakat yang luas, hendaknya selalu berusaha menjadi pribadi yang mempunyai prinsip,serta sikap yang mencerminkan bahwa kita bisa dan harus memjadi seorang pendidik yang mendidik atas dasar ajaran dan nilai-nilai yang telah di ajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.


DAFTAR PUSTAKA

         Tauchid,muhammad,2011,Perjuangan dan Ajaran Hidup Ki Hadjar Dewantara,cetakan ketiga Majelis  Luhur Tamansiswa Yogyakarta,Yogyakarta
         Boentarsono, Ki B., Dwiarso, Ki Priyo dkk,2012,Tamansiswa Badan perjuangan Kebudayaan dan Pembangunan Masyarakat,Perguruan Tamansiswa Yogyakarta,Yogyakarta
         Sutikno, Ki,2012,Ketamansiswaan II,Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta,Yogyakarta
•     Wardani,Kristi,2011,http://www.google.com/search?q=makalah+tentang+10+sendi-sendi+Ki+Hajar+Dewantara&source=lnms&sa=X&ei=uZ9nU_jCKoK3uASh9oDwBQ&ved=0CAcQ_AUoAA&biw=1366&bih=667&dpr=1#q=makalah+tentang+10+fatwa+atau+sendi-sendi+Ki+Hajar+Dewantara&start=0

Jumat, 21 November 2014

makalah tamansiswa



Nama : saleman hartoyo
NIM   : 2012002175
TIK B
TAMANSISWA
      I.            PEMBUKAAN
Pendidikan rakyat bukan saja mengganggu Rest en Orde (aman dan tertib) kolonial,tetapi menggusur kolonialisme. Pada masa tersebut dapat ditemui inisiatif pendidikan yang datang dari negara (-kolonial) dan pula dari rakyat. Pendidikan dari negara (-kolonial) menetapkan prasyarat bahwa orang tua siswa harus berlatar penguasa bumiputera (bupati, lurah, wedana, dsb.). Sementara pendidikan inisiatif rakyat tidak menetapkan prasyarat apa-apa. Dalam jaman ini pula lahir tokoh-tokoh perlawanan terhadap negara kolonial Hindia Belanda seperti R. Oemar Said Tjokroaminoto, Semaoen, R.M. Soewardi Soerjaningrat, R.M. Sorjopranoto, R.P. Sosrokardono, R.A. Kartini, dan masih banyak lagi.




   II.            ISI
A.   Tamansiswa

Taman Siswa adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta (Taman berarti tempat bermain atau tempat belajar, dan Siswa berarti murid).Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah Taman Siswa ini diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa", yang merupakan realisasi gagasan beliau bersama-sama dengan teman di paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah Taman Siswa ini sekarang berpusat di balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, dan mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia.
Prinsip dasar dalam sekolah/pendidikan Taman Siswa yang menjadi pedoman bagi seorang guru adalah:
  1. ·         Ing ngarsa sung tulada ("(yang) di depan memberi teladan/contoh")
  2. ·         Ing madya mangun karsa ("(yang)" di tengah membangun prakarsa/semangat")
  3. ·         Tut wuri handayani ("dari belakang mendukung").
  4. Ketiga prinsip ini digabung menjadi satu rangkaian/ungkapan utuh: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang sampai sekarang masih tetap dipakai sebagai panduan dan pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia.


B.   Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Beliau berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Saat genap berusia 40, ia berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara.  Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia mentamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit. Beliau bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara.
Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.
Setelah ditolakn, ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.
Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik dr. Douwes Dekker.
Akibat karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang). Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.
Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.
Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut..
Sementara itu, Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.
Setelah zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.
Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.Kemudian oleh pihak penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.

C.   Tut Wuri Handayani

Sekarang ini, istilah Tut Wuri Handayani sudah mulai asing bagi orang-orang yang bergerak didunia pendidikan. Istilah Tut Wuri Handayani juga diikuti oleh 2 istilah lainnya yaitu Ing Madya Mangun Karsa, dan Ing Ngarsa Sung Tulada. Ketiga istilah tersebut pertama kali diucapkan oleh Ki Hajar Dewantara dan ditujukan kepada para guru. Sebagai pemeran utama pendidikan, guru harus mempedomani ketiga hal tersebut. Memang, dilihat dari bahasa, istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa. Tapi, karena makna yang bersifat universal dapat berlaku dimana saja.
Seharusnya kita bangga dengan istilah tersebut, namun sangat disayangkan sekarang ini istilah tersebut sudah tak populer lagi. Mencermati istilah Tut Wuri Handayani atau dibelakang memberi dorongan, maka para guru hendaknya mampu menjadi motivator bagi kebangkitan semangat siswa untuk belajar lebih giat lagi. Banyak guru-guru kita yang sudah tak mampu lagi menjadi motivator. Mereka lebih mementingkan hal yang bersifat material semata dalam mengajar. Padahal yang utama dilakukan adalah menumbuhkan semangat mereka untuk belajar. Guru-guru yang mampu memberikan dorongan kepada para siswanya akan menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi.
Ditengah harus menciptakan prakarsa dan ide, atau Ing Madya Mangun Karsa ditujukan agar guru mampu membuat inovasi, variasi, dan kreativ dalam mengajar. Guru dituntut untuk selalu memperbaharui diri dan pengetahuannya agar siswanya mendapatkan tambahan pengetahuan dengan baik. Guru harus bisa mencari alternative dalam memberikan materi pelajaran. Artinya, guru tidak hanya terpaku pada kurikulum dan materi pelajaran yang ada di buku pelajaran semata, tetapi mampu melakukan berbagai inovasi dan kreasi sehingga siswa mendapatkan berbagai alternative bahan pelajaran.
Guru merupakan panutan dan contoh bagi para siswanya. Apapun yang dilakukan oleh guru merupakan semacam aturan yang kemudian menjadi contoh bagi siswanya. Menjadi teladan memang bukan hal yang mudah, namun demikian bukan mustahil untuk dilakukan. Seorang guru memang seharusnya dan selayaknya menjadi contoh bagi siswanya. Etika, sopan santun, budi pekerti, dan sebagainya harus dimulai dari gurunya. Bukan malah sebaliknya, justru guru yang memulai mengajarkan siswanya untuk kurang ajar.
Tulisan Tut Wuri Handayani melekat pada lambing dari Departemen Pendidikan Nasional. Dengan tulisan tersebut Depdiknas ingin menjadi motivator bagi kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Namun yang terlihat selama ini, Depdiknas hanya berperan sebagai regulator dibandingkan sebagai motivator. Depdiknas sangat sibuk dengan upaya-upaya merancang berbagai peraturan tentang dunia pendidikan, dan agak melupakan perannya sebagai motivator pendidikan. Itulah sebabnya, dunia pendidikan kita masih belum mampu menghasilkan kualitas pendidikan setara dengan Negara-negara yang sudah maju.


III.            PENUTUP

Berdasarkan hasil pengamatan, maka penulis dapat memberikan kesimpulan tentang Taman Siswa. Taman siswa adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta. Taman siswa mempunya 3 prinsip dasar dalam sekolah/pendidikan Taman Siswa yang menjadi pedoman bagi seorang guru adalah:
  1. ·         Ing ngarsa sung tulada ("(yang) di depan memberi teladan/contoh")
  2. ·         Ing madya mangun karsa ("(yang)" di tengah membangun prakarsa/semangat")
  3. ·         Tut wuri handayani ("dari belakang mendukung").

IV.            DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia.2010.Ki Hajar Dewantara. http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara
Wikipedia. 2010. Sekolah Taman Siswa. http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa






my beautiful history

my beautiful history Kata sahabat sahabatku masa masa SMA adalah masa kenangan sepanjang masa dan tidak akan terlupakan,tapi bagi ...