Nama : saleman hartoyo
NIM : 2012002175
TIK B
TAMANSISWA
I.
PEMBUKAAN
Pendidikan
rakyat bukan saja mengganggu Rest en Orde (aman dan tertib) kolonial,tetapi
menggusur kolonialisme. Pada masa tersebut dapat ditemui inisiatif pendidikan
yang datang dari negara (-kolonial) dan pula dari rakyat. Pendidikan dari
negara (-kolonial) menetapkan prasyarat bahwa orang tua siswa harus berlatar
penguasa bumiputera (bupati, lurah, wedana, dsb.). Sementara pendidikan inisiatif
rakyat tidak menetapkan prasyarat apa-apa. Dalam jaman ini pula lahir
tokoh-tokoh perlawanan terhadap negara kolonial Hindia Belanda seperti R. Oemar
Said Tjokroaminoto, Semaoen, R.M. Soewardi Soerjaningrat, R.M. Sorjopranoto,
R.P. Sosrokardono, R.A. Kartini, dan masih banyak lagi.
II.
ISI
A.
Tamansiswa
Taman Siswa adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar
Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta (Taman berarti tempat bermain atau
tempat belajar, dan Siswa
berarti murid).Pada waktu pertama kali didirikan, sekolah Taman Siswa ini
diberi nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa", yang merupakan
realisasi gagasan beliau bersama-sama dengan teman di paguyuban Sloso Kliwon. Sekolah
Taman Siswa ini sekarang berpusat di balai Ibu Pawiyatan (Majelis Luhur) di Jalan
Taman Siswa, Yogyakarta,
dan mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia.
Prinsip
dasar dalam sekolah/pendidikan Taman Siswa yang menjadi pedoman bagi seorang guru adalah:
- · Ing ngarsa sung tulada ("(yang) di depan memberi teladan/contoh")
- · Ing madya mangun karsa ("(yang)" di tengah membangun prakarsa/semangat")
- · Tut wuri handayani ("dari belakang mendukung").
- Ketiga prinsip ini digabung menjadi satu rangkaian/ungkapan utuh: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang sampai sekarang masih tetap dipakai sebagai panduan dan pedoman dalam dunia pendidikan di Indonesia.
B.
Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar
Dewantara Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.Terlahir dengan nama
Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Beliau berasal dari lingkungan keluarga
kraton Yogyakarta. Saat genap berusia 40, ia berganti nama menjadi Ki Hadjar
Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak
lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan
supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.
Perjalanan
hidupnya benar-benar diwarnai perjuangan dan pengabdian demi kepentingan
bangsanya. Ia mentamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) Kemudian
melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat
karena sakit. Beliau bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara
lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja
Timoer dan Poesara.
Selain
ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan
politik. Pada tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk
mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu
mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.
Kemudian,
bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto
Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang
beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan
mencapai Indonesia merdeka. Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk
memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi
pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg berusaha
menghalangi kehadiran partai ini dengan menolak pendaftaran itu pada tanggal 11
Maret 1913. Alasan penolakannya adalah karena organisasi ini dianggap dapat
membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakan kesatuan untuk menentang
pemerintah kolonial Belanda.
Setelah
ditolakn, ia pun ikut membentuk Komite Bumipoetra pada November 1913. Komite
itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun
Kemerdekaan Bangsa Belanda. Komite Boemipoetra itu melancarkan kritik terhadap
Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri
Belanda dari penjajahan Prancis dengan menarik uang dari rakyat jajahannya
untuk membiayai pesta perayaan tersebut.
Sehubungan
dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul Als Ik
Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar
Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga). Tulisan
Seandainya Aku Seorang Belanda yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik
dr. Douwes Dekker.
Akibat
karangannya itu, pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg
menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum
buang). Ia pun dihukum buang ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto
Mangoenkoesoemo merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka
pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Soewardi. Tetapi pihak Belanda
menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada
pemerinah kolonial. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Douwes
Dekker dibuang di Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo dibuang ke pulau Banda.
Namun
mereka menghendaki dibuang ke Negeri Belanda karena di sana mereka bisa
memperlajari banyak hal dari pada didaerah terpencil. Akhirnya mereka diijinkan
ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Kesempatan
itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga
Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berhasil memperoleh Europeesche Akte.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.
Kemudian ia kembali ke tanah air di tahun 1918. Di tanah air ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan.
Setelah
pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, ia pun mendirikan
sebuah perguruan yang bercorak nasional, Nationaal Onderwijs Instituut
Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922. Perguruan ini
sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka
mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
Tidak
sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial
Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada
1 Oktober 1932. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga
ordonansi itu kemudian dicabut..
Sementara
itu, Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943,
Ki Hajar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs.
Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur.
Setelah
zaman kemedekaan, Ki hajar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan,
Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja
diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan
Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional,
tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat
keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan
lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah
Mada pada tahun 1957.
Dua tahun
setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada
tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.Kemudian oleh pihak
penerus perguruan Taman Siswa, didirikan Museum Dewantara Kirti Griya,
Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar
Dewantara. Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan
pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan
agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan
sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.
C.
Tut Wuri Handayani
Sekarang ini, istilah Tut Wuri Handayani sudah mulai
asing bagi orang-orang yang bergerak didunia pendidikan. Istilah Tut Wuri
Handayani juga diikuti oleh 2 istilah lainnya yaitu Ing Madya Mangun Karsa, dan
Ing Ngarsa Sung Tulada. Ketiga istilah tersebut pertama kali diucapkan oleh Ki
Hajar Dewantara dan ditujukan kepada para guru. Sebagai pemeran utama
pendidikan, guru harus mempedomani ketiga hal tersebut. Memang, dilihat dari
bahasa, istilah tersebut berasal dari bahasa Jawa. Tapi, karena makna yang
bersifat universal dapat berlaku dimana saja.
Seharusnya kita bangga dengan istilah tersebut,
namun sangat disayangkan sekarang ini istilah tersebut sudah tak populer lagi.
Mencermati istilah Tut Wuri Handayani atau dibelakang memberi dorongan, maka
para guru hendaknya mampu menjadi motivator bagi kebangkitan semangat siswa
untuk belajar lebih giat lagi. Banyak guru-guru kita yang sudah tak mampu lagi
menjadi motivator. Mereka lebih mementingkan hal yang bersifat material semata
dalam mengajar. Padahal yang utama dilakukan adalah menumbuhkan semangat mereka
untuk belajar. Guru-guru yang mampu memberikan dorongan kepada para siswanya
akan menghasilkan siswa-siswa yang berprestasi.
Ditengah harus menciptakan prakarsa dan ide, atau
Ing Madya Mangun Karsa ditujukan agar guru mampu membuat inovasi, variasi, dan
kreativ dalam mengajar. Guru dituntut untuk selalu memperbaharui diri dan
pengetahuannya agar siswanya mendapatkan tambahan pengetahuan dengan baik. Guru
harus bisa mencari alternative dalam memberikan materi pelajaran. Artinya, guru
tidak hanya terpaku pada kurikulum dan materi pelajaran yang ada di buku
pelajaran semata, tetapi mampu melakukan berbagai inovasi dan kreasi sehingga
siswa mendapatkan berbagai alternative bahan pelajaran.
Guru merupakan panutan dan contoh bagi para
siswanya. Apapun yang dilakukan oleh guru merupakan semacam aturan yang kemudian
menjadi contoh bagi siswanya. Menjadi teladan memang bukan hal yang mudah,
namun demikian bukan mustahil untuk dilakukan. Seorang guru memang seharusnya
dan selayaknya menjadi contoh bagi siswanya. Etika, sopan santun, budi pekerti,
dan sebagainya harus dimulai dari gurunya. Bukan malah sebaliknya, justru guru
yang memulai mengajarkan siswanya untuk kurang ajar.
Tulisan Tut Wuri Handayani melekat pada lambing dari
Departemen Pendidikan Nasional. Dengan tulisan tersebut Depdiknas ingin menjadi
motivator bagi kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Namun
yang terlihat selama ini, Depdiknas hanya berperan sebagai regulator
dibandingkan sebagai motivator. Depdiknas sangat sibuk dengan upaya-upaya
merancang berbagai peraturan tentang dunia pendidikan, dan agak melupakan
perannya sebagai motivator pendidikan. Itulah sebabnya, dunia pendidikan kita
masih belum mampu menghasilkan kualitas pendidikan setara dengan Negara-negara
yang sudah maju.
III.
PENUTUP
Berdasarkan
hasil pengamatan, maka penulis dapat memberikan kesimpulan tentang Taman Siswa. Taman siswa adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar
Dewantara pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta. Taman siswa
mempunya 3 prinsip dasar dalam sekolah/pendidikan Taman Siswa yang menjadi
pedoman bagi seorang guru
adalah:
- · Ing ngarsa sung tulada ("(yang) di depan memberi teladan/contoh")
- · Ing madya mangun karsa ("(yang)" di tengah membangun prakarsa/semangat")
- · Tut wuri handayani ("dari belakang mendukung").
IV.
DAFTAR PUSTAKA
Biografi
Ki Hajar Dewantara. http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/02/biografi-ki-hajar-dewantara.html
Wikipedia.2010.Ki
Hajar Dewantara. http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara
Icai.2010.Tut
Wuri Handayani. http://edukasi.kompasiana.com/2010/02/25/tut-wuri-handayani-yang-terlupakan/
Wikipedia. 2010. Sekolah Taman Siswa. http://id.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Taman_Siswa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar