3 september 2015
yang menegenagkan.
Menjelang sore perutku sedikit merontok
dan nyeri yang isi menandakan bahawa ia sedang memmita sesuatu untuk di suapi
yaitu sebutir nasi mencukupi jiwa yang menangis. Hingga malam itu saya mendekati sebua warung makan yang cocok
bangat menurutku karena menyediakan bebrapa buku koleksi novel.saya mengambil
satu buah buku yang yang berada diatas meeja,yang sedang di tunggu oleh
penggemar membaca untuk di telan dan di cerna lalu di prosose untuk di makan
dan di maknai sebua proses perjuangan hidu dengan judul “CINTA BERSEMI DI
HAMAPARAN BUNGA TULIP”.
Kira kira covernya isinya seperti ini
daun daun berubah warna.berjatuh di tempa angin sperti hati ini jatuh di sudut
hatimu kata sosok penulis sejati itu heheh .takdir membawaku kembali padamu
saat kau tawarkan keceriaan dalam mengayuh sepeda beriringan menyusuri kota
laiden bermulai di jogya dan berakhir di
Amsterdam.
Novel itu menggambar seseorang yang
bekerja keras untuk menutupi hidupnya ceritanya mengungrahkan sekali dan
sebagai bahan pertimbagan untuk di ambil hikmahya.aku sempat sempat menangis
tapi di alis saja terhru membaca novelnyya. Bisanggga ya aku seperdisa…heheh Apa
pelajaran yang kita ambil dari novel tersebut
Kita harus siap
menghadapi dunia ini,sungguh kejam tapi dibawa santai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar