dalam
menuju kedewasaan belajar itu bukan hanya satu, melainkan bercabang
cabang.orang cerdas akan melihat berapa cabang cabang pola pikir kita, karena
kekreatifan dalam berpikir juga senang itu penting agar kita tidak tertinggal
dengan sahabat-sahabat kita seperjuangan.
cabang
cabang tersebut bukan hanya cabang kesuksesan dalam berpikir untuk menaikan
level yang lebih tinggi,tapi melihat kegagalan yang pernah dialami oleh
mahasiswa, atau lebih tepatnya adalah karena banyaknya nilai yang kurang
memuaskan yang diberikan oleh dosen, maka cara yang paling tepat adalah
menggantikan metode kita menggantikan cara kita itulah kita sesungguhnya.
keradasan
itu bukan hanya dimiliki oleh beberapa orang saja, namun kita diberikan oleh
Tuhan otak yang sama agar kita mengelola dan memanajemen dengan teratur
rapi dan terah. apalagi kalau kita dilahirkan oleh ibu di desa yang jauh dari
beberapa fasilitas untuk menunjang pembelajaran kita namun, bukan berarti itu
yang membuat saya tertinggal tapi bagaimana cara kita untuk menanganinya
agar kita selalu bersama dengan teman teman.
kadang
juga banyak hal yang saya dapat karena fisik yang lemah dan cara berpikir yang
salah, tapi itu semuanya namanya adalah proses belajar.saya masih ingat saya
masih SD tinggal di kebun dengan gubuk di temani oleh anjing kecil
penjaga kebun, dan ayam yang selau mebangunkan saya di kala pagi hari untuk
berangkat ke sekolah yang lumayan jauh.
saya
tidak paham sekali yang namanya bahasa inggris modalku hanya nekat, karena saya
punya om foto dengan turis yang
begitu tinggi dan gagah yang ada di
album di rumah diperlihatkan oleh mama waktu itu., sehingga semangat belajar saya waktu itu semakin tinggi.
ketika
guru kami matematika menjelaskan beberapa materi aljabar di kelas, kubuka
bagian buku matematika tersebut ada summary bahasa inggris,buku tersebut
kupinjam dari teman saya, saya ingat benar waktu itu, saya membaca thank you,
saya membaca thank yoooou.
waktu
saya sadar kalau bacaan tersebut benar menurut aturan saya, karena tidak ada mentor ataupun guru
yang mengajar saya ku coba untuk membaca dan membaca meski itu hanya percakapan
dari kelas 4 sd hingga kelas 6 sd,pengalamanku bahasa inggris berlanjut di MTS
yaitu ketika guru bahasa inggris kelas 3
kami ardin arno namanya, dia salah satu almini satria makassar tapi
bukan guru sebenarnya hanya karena tidak ada guru maka dia dipakai untuk
mengajar latang sebenya adalah sastra
inggris.
guru
tersebut menanyakan kepada saya tentang materi yang diajarkan di kelas, tapi
saya tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut lalu dia marah dan mukanya marah,
mata melotot sambil menggigit gigi,dan mencubit telinga saya hingga merah
dan bengkak sampai sampai saya tidak bisa tidur di malam hari, waktu itu dia cubit sambil melontarkan
beberapa kata , yang saya ingat "nak hartoyo saya ketemu bapamu
kemarin, bapamu sambil memikul beras 40
kg di jalan menuju rumahmu disini, tapi kau tidak menghargai itu. belajar
belajar dan belajar katanya waktu itu.
dari
pengalaman penulis kadang, saya merasa bahwa pengalaman adalah sahabat kita
ketika menuju kedewasaan dalam berpikir dan bertindak. kenapa ? jika guru saya tidak berbuat demikian, mungkin
saya tidak bisa sampai hari ini, saya tidak cinta bahasa inggris, saya mau bilang bahwa ketika kita merasakan
kesakitan dari sebuah pengalaman belajar maka disitulah letaknya saya
belajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar