“BUNGA
TULIP”.
Menjelang sore perutku
sedikit merontok dan nyeri yang isi menandakan bahwa ia sedang meminta sesuatu
untuk di suapi yaitu sebutir nasi mencukupi jiwa yang menangis. Hingga malam
itu saya mendekati sebuah warung makan yang cocok bangat menurutku
karena menyediakan beberapa buku koleksi novel.
saya mengambil satu buah
buku yang yang berada di atas meja,yang sedang ditunggu oleh penggemar membaca
untuk ditelan dan dicerna lalu diproses untuk dimakan dan di maknai sebuah
proses perjuangan hidup dengan judul “CINTA BERSEMI DI HAMAPARAN BUNGA TULIP”.
Kira kira covernya isinya
seperti ini daun daun berubah warna.berjatuh ditempa angin seperti hati ini
jatuh di sudut hatimu kata sosok penulis sejati itu heheh .takdir membawaku
kembali padamu saat kau tawarkan keceriaan dalam mengayuh sepeda beriringan
menyusuri kota Laiden bermulai di jogja dan berakhir di Amsterdam.
Novel itu menggambar
seseorang yang bekerja keras untuk menutupi hidupnya ceritanya menganugerahkan
sekali dan sebagai bahan pertimbagan untuk di ambil hikmah nya.aku sempat
sempat menangis tapi di alis saja terharu membaca novelnya. Bisa nggak ya aku
seperti diah heheh Apa pelajaran yang kita ambil dari novel tersebut Kita harus
siap menghadapi dunia ini,sungguh kejam tapi dibawa santai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar